Monday, April 6, 2009

Dahlan Iskan, I’m in Luv

Dahlan Iskan. Sebuah nama yang pastinya tidak asing lagi bagi kita. Sudah sejak lama saya mendengar nama besar beliau. Tapi saya tidak begitu tahu tentang orangnya, juga karya-karyanya. Sampai suatu hari saya melirik tumpukan buku best seller di Toga Mas Malang. Tergelitik dengan buku yang disusun sedemikian rupa oleh pegawai tokonya, GANTI HATI. Kata ‘hati’ yang langsung terlintas di pikiran saya adalah ‘hati’ sebagai sesuatu yang absurd —sama sekali bukan ‘hati’ sebagai salah satu organ tubuh— Saya lihat harga yang tertera di belakang buku. “Ahh…nanti saja. Saya sudah terlanjur membeli banyak buku, novel, kumpulan cerpen, salah satu buku Agus Mustofa, juga buku-buku bacaan brgambar untuk Adhit dan Tya.” Sebenarnya harganya tidak terlalu mahal. Tapi untuk ukuran mahasiswa —saat itu— seperti saya, yang sudah terlanjur mengeluarkan uang untuk sejumlah buku, harus berpikir dua kali untuk menambah pembayaran untuk sebuah buku lagi. Akhirnya saya urung membeli buku Pak Dahlan Iskan. Beberapa hari sempat kepikiran, kenapa saya tidak jadi membeli buku itu. Hari berganti, minggu berlalu, sekian bulan sudah terlewati. Saya lupa dengan keinginan saya membeli buku GANTI HATI-Pak Dahlan Iskan, malah saya menambah koleksi baju-baju saya.

Sampai dipenghujung waktu, saya harus meninggalkan kota Malang dan kembali ke kampung halaman saya, Tenggarong. Saya menghabiskan hari-hari terakhir dengan keliling kota Malang, berwisata kuliner, belanja pesanan Ibu dan kakak saya. Dan terakhir, saya mengunjungi toko buku kesayangan saya, Toga Mas. Saya berniat membeli beberapa buku bergambar model-model rumah, karena kebetulan keluarga saya berniat membangun rumah. Juga beberapa resep masakan. Saya juga berniat membelikan ayah saya sebuah buku. Ayah saya sangat gemar membaca.

Pilihan saya jatuh pada sebuah buku karya Milyader, bisnisman terkemuka di AS. Waktu saya mau -menuruni tangga, tiba-tipa tatapan saya mengarah pada tumpukan buku yang masih tertata dengan rapi. Senyum di buku itu seolah memanggil saya untuk mengambilnya. “God, GANTI HATI. Kenapa saya bisa lupa.” Saya letakkan kembali buku yang semula saya peruntukkan bagi ayah saya. Dan saya mantab mau memberikan GANTI HATI sebagai hadiah untuk ayah saya.

--

Hari-hari awal kepulangan saya di Tenggarong, tidak bisa langsung kerja. Status Fresh Graduate dan sudah menikah, sulit sekali mencari perusahaan yang mau mempekerjakan saya. Mungkin saya harus membenarkan cibiran sebagian orang pada saya “Gelar dua bukan jaminan kerja enak”

Saya bantu pekerjaan bulek —pembantu saya— atau terkadang saya habiskan waktu dengan membaca buku-buku koleksi ayah saya. GANTI HATI. Buku pemberian saya. Saya ambil, dan saya baca. Awalnya hanya kata pengantar, lalu e-mail dan sms yang dimuat. Berlanjut ke isi buku. Dalam sekali habis saya baca buku GANTI HATI, saya langsung jatuh cinta pada Dahlan Iskan. Eitss cinta yang bagaimana dulu… . Tulisan beliau banyak menggugah saya, dan timbul pembenaran pada hati saya “O iya ya, bener juga”

Ada satu bagian yang sangat saya sukai dari GANTI HATI. Sebenarnya saya sering ada pada kondisi seperti itu. Namun, saya sering bingung untuk mendeskripsikannya. Sejak saya membaca satu bagian itu, saya seperti menemukan jawaban atas sikap saya selama ini.

Saya adalah seorang biasa, yang sama dengan kebanyakan orang, saya juga memiliki masalah dalam menjalani hidup. Mulai masalah sekolah mana yang akan saya pilih, pendidikan apa yang akan saya tempuh, masalah dengan keluarga, bertengkar sampai putus dengan pacar, masalah dengan teman sampai ditinggalkan dan meninggalkan teman, masalah dengan kerjaan, dan yang paling sering, masalah dalam perkawinan saya.

Saya bukan orang alim ataupun suci. Tapi saya tahu Tuhan saya, juga kewajiban saya sebagai umat-Nya. Saya sering kali berdoa. Doa untuk kedua orang tua saya, kakak saya, suami saya, anak saya, kakak ipar saya, keponakan saya, keluarga besar saya, teman-teman saya dan semua orang yang saya sayangi dan menyayangi saya. Berdoa untuk segala kebaikan dan kebahagiaan mereka. Terkadang saat melepas mukena seusai sholat “O iya, td saya belum berdoa untuk diri aq sendiri. Udahlah, Tuhan pasti tahu apa yang terbaik buat aq.” Dan itu terus terjadi pada saya. Setiap kali ada masalah, saya jarang sekali menangis dan memohon pada Tuhan penyelesaiannya. Terkadang saya berpikir apa saya terlalu sombong? Angkuh? Sampai saya begitu enggan meminta untuk diri saya. Semua terjawab sudah, melalui tulisan Pak Dahlan Iskan.

Berikut beberapa paragraph yang menggugah pembenaran saya…
Banyak yang Mendoakan Panjang-panjang, Saya Berdoa Pendek

Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu, saya menyadari bahwa saya tadi belum sempat berdoa. Saya harus bersoa. Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. Tapi, segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa pada Tuhan?Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan, sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: Untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta pada-Ku?
Karena itu, saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. Saya tidak mau serakah. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan, kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka, saya putuskan akan berdoa sesimpel mungkin.
Tapi, masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Apakah saya harus berdoa dengan cara biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya sampaikan biasa-biasa saja apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya? Tapi kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba, apakah Tuhan tidak akan menilainya begini: Lihat tuh Dahlan. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia merengek-rengek setengah mati. Tapi, nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan gembira. Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu.
Apalagi saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak membedakan doa yang dikirim secara biasa, secara khusus, maupun secara tangis-menangis. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri, entah seperti apa.
Waktu terus berjalan. Perdebatan di hati saya belum selesai. Padahal, kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan, terserah Engkau sajalah!Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup, hidupkanlah! Selesai.
Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. Plong. Kereta pun tiba di depan ruang operasi.
(Iskan, Dahlan. 2007. Ganti Hati. Hal 15-16. Surabaya: JP BOOKS)

Ada perasaan nyaman begitu saya membaca tulisan Pak Dahlan Iskan. Sejak itu, saya begitu excited, menanti setiap tulisan beliau. Bahkan yang semula di rumah saya berlangganan Surat Kabar lain, berganti KaltimPost.
Bagi saya, beliau bukan orang serba bisa. Tapi, berusaha untuk bisa —termasuk beralih profesi “konsultan transplantasi hati”¬—
Saya mengagumi beliau, terlebih beberapa tahun terakhir, beliau turut berpartisipasi dalam mengatasi masalah listrik di Kaltim. Saya merasa malu, sebagai putra Kaltim, saya belum mampu berbuat banyak. Tapi beliau? Orang yang hanya pernah mencicipi kehidupan di Kaltim, tapi mau berperan serta untuk perubahan Kaltim.
Semoga di suatu kesempatan saya bisa bertemu dengan beliau. Sekedar mengobrol ringan yang sesuai kapasitas otak saya.

Thursday, January 3, 2008

Unique Habbit…

Hehehe…belakangan aq berasa narsis banget. Tambah narsis tepatnya…Lagi hobby banget pose sexy, pake baju rada kebuka gitu ato bahkan kadang setengah bugil di depan kamera…Hihihi…Edan banget kan? Don’t worry bwat tmen’’ tercintaq, aq sendiri koq yg pegang kameranya. So ga pake photographer’’an. Pengennya sih bisa majang foto hasil jepretan aq di sini…hehehe cuman pengen kasih liat…keren banget hasilnya…kaya’nya bakat bgt aq motret…fufufu. Tapi takutnya ‘seseorang’ nun jauh di sana kagak ‘nahan’ liat pose aq…hehehe. Pengennya sih aq cetak-in di digital printing, tp was’’ takutnya ntar dipublikasi’in…huahuahahahah…So…bwat sapa aja yg berminat, hub saya via telp or imel, tp jangan lupa ada biaya pengirimannya!!! Ngomongin soal sexy…pernah lho suatu kali aq ngobrol ama Adhit —inget khan anak lelaki aq yg berasa paling cool se jagat—

Aq : “Dhit, ntar kalo ditanya ma orang bunda Adhit sapa namanya, ntar bilang ‘Bunda Anis yg cantik n sexy’ gitu ya!!” —gila kana q, anak kecil diajarin sexy’’an—

Adhit : “Iya”

Aq : “Coba bunda mau denger! Bunda Adhit sapa namanya?”

Adhit : “Bunda Anin yg cantik n sexy” —diam sejenak lalu… “1,2,3…hwueeekkkk” —ngeloyor pergi—

Nah lho tinggal aq bengong ndiri, ga abiz pikir kaya’nya bener ketuker deh anakq di RS…

Learning From d’Past…

Sering banget qta denger ungkapan : “Jadikan masa lalu sebagai sebuah pembelajaran”. Masa lalu, baik maupun buruk, susah maupun senang, pahit atopun manis…Kesemuanya itu merupakan satu tahapan dalam hidup yang memang harus qta lewati. Ada yang menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran, ada yang menjadikannya sebagai momok yg menakutkan untuk diinget/dikenang.

Seseorang pernah menanyakan tentang hal ini : “Seandainya elo bisa kembali ke masa lalu, dan elo bisa mengubah kejadian di masa lalu, hal apa yang elo pengen ubah? Tapi apa yg elo ubah itu ga bakal mengubah apa yg ada di elo sekarang.”

Sesaat aq sempat bingung. Entah apa yg ingin qubah…aq ingin mengubah untuk tidak menikah di usia muda. Tapi…tidak…kalau aq mengubah ini, mungkin tidak ada Adhit n Tya dalam hidupq. Mungkin aq tetap Anis yg childish, kolokan, mau menang sendiri/egois, brengsek, urakan, nakal...dan mungkin aq ga akan bisa lebih berpikir dalam bertindak, dan mungkin aq ga akan pernah tau, bahwa terdapat pernik lain dalam hidup… Urung qkatakan keinginanq padanya. Karena sekarang aq sudah cukup bahagia dengan hidup yg qjalani, walau terkadang ada hal’’ yang memberatkanq, yg membebaniq, yg membuatq menangis di malam’’q, namun semua itu sangat setimpal dengan kehadiran Adhit n Tya di hidupq.

Akhirnya aq menjawab : “Entahlah…mungkin sebaiknya aq ga pernah ketemu u. Kalo u apa?”

Sesaat dia terdiam, lalu : “Gw pengen pergi ke waktu dimana gw berpisah dengan seseorang dan gw mau bilang ke dia, ’eh goblok, diem aja elo di situ, jangan kemana’’, tunggu sampei gw dateng’ tapi udahlah semua udah lewat.”

Masa lalu tetaplah masa lalu. Aq pernah menjadi orang yg mendedikasikan hidup hanya untuk teman. Sampei hal paling ga’ realistis aq bakal laku’in demi teman. Kekecewaan. Yup, kekecewaan yg merupakan pangkal dari pengharapan. Dari sini aq belajar untuk menjadi seseorang yg lebih realistis dalam bertindak, lebih pake akal timbang rasa. Dan aq menemukan kebahagiaanq dengan cara ini.

Ada suatu masa di masa laluq…di mana aq belajar banyak hal. Mulai dari teman, sahabat, senang, sakit, kecewa, sayang, benci…Bahkan sampai sekarang, aq masih menjadikan masa itu sebagai masa paling amazing di hidupq. Keajaiban. Yup. Ada sebagian orang yg mengatakan “Kamu ga akan berkembang kalau terus terpaku pada masa lalu.” Jawabanq : “Biarin, emang kenapa kalo aq terus stag di satu masa itu. Qpikir mereka org’’ yg pantas menerima penghargaan di hidupq. Toh mereka org’’ yg menjadi inspirasi banyak hal di hidupq. Karena merekalah aq selalu ingin menjadi manusia yg lebih baik.”

Masa Lalu, Masa Sekarang, Masa Depan…bagiq ketiganya akan menciptakan hubungan kausalitas… Di mana apapun yg terjadi pada masa sekarang, masa depan adalah sebuah “pembalasan” ato bahkan “tebusan” dari masa lalu. Mengapa “pembalasan”? Pernah dengar donk istilah barang siapa menabur benih akan menuai hasil dan barang siapa menabur angin akan menuai badai…? Mengapa pula “tebusan” ? Kehidupan adalah ibaratkan roda yg berputar. Kebahagiaan qta sekarang merupakan tebusan dari penderitaan qta di masa lalu, begitu juga sebaliknya.

Bukan so’ gaya’ banget ngomong soal ginian, bukan pula mau menggurui, tapi seandainya qta bisa merenungi sejenak… akui deh, baik “pembalasan” maupun “tebusan” ada benernya kan? Seandainya qta bisa berhenti untuk mengeluhkan atas apa yg menimpa qta, misal qta tidak bahagia alias menderita, timbang mencari kambing hitam dari permasalahan qta…coba deh qta mikir sejenak, mungkin aq menderita gini coz aq dulu juga sering bwat papa mamaq susah, aq sering bwat sodara’’q nangis, aq sering nyakitin teman’’q… ato bisa juga…Tak apalah sedikit merasa tak bahagia, mungkin sebelum ini aq sudah terlalu sering merasakan bahagia… Tapi ni ya, kalo masih juga merasa…koq kayaknya dari kecil sampe sekarang Tuhan ga pernah ngijinin aq bahagia, dikasih sedih mlulu, padahal sholatq ga pernah bolong, aq rajin puasa senin-kamis, aq rajin sedekah, aq rajin... . Tengok lagi deh ke belakang, selama ini pernah ga sih Tuhan kasih u penderitaan, misal mencabut nyawamu selama 5 menit, mengambil udara yg u hirup…pernah? Coba lebih u ingat lagi…apa yg bwat u sampei ga bahagia…misal u ga lolos ujian masuk di jurusan n kampus yg u pengen…Salah siapa? Salah Tuhan? Padahal begitu banyak pilihan, misal jurusan lain yg mungkin u lebih mampu, ato kampus lain yg mungkin bisa menerima u. Ato misal, u menderita karena memilih pasangan hidup yg salah, salah siapa? Salah Tuhan again? Padahal sebelumnya u masih diberi kesempatan untuk memilih, tp u sendiri yg memilihnya…

Percaya, apapun yang terjadi pada diri u sekarang, adalah Takdir yg u pilih sendiri. Hidup itu pilihan, bukan? Atau simple-nya…Apa yg terjadi atas u sekarang, maybe merupakan hal terbaik bwat u…

Cintachococinno…

Hei…dilarang protes, abiz aq sukanya chococinno timbang capuccino. Itu tuh, kopi rasa coklat yg belakangan jadi temen setia aq tiap melek malem. Betewe, aq baru baca lho novel cintapuccino-nya Icha. Hehehe so late banget ya…Udah lamaaa banget Ita nyuruh aq baca, tp males mlulu bacanya…pas pelemnya keluar Ita malah ga mau nonton, ‘takutnya ga mirip ama novelnya ntar malah ngecewa’in’… Kemaren ni aq iseng’’ nanya Ita gmana ceritanya, aq baca endingnya gitu, tp aq masih blon paham si Rahmi akhirnya sama Raka ato Nimo-nya…Ehh ni anak satu kagak mau cerita, jadi deh aq baca sendiri. Gelok banget deh…sampei sekarang masih ga habis pikir napa si Rahmi milih Nimo pada akhirnya timbang the most perfect one si Raka. Apa karena Raka ‘emoh’ berjuang bwat cinta mereka? Heloh?!?!? Hari gini, kalo cowok udah males berjuang, ya qta aja napa yg berjuang…eman sisapi? Masih penting gitu?

Aduhh sewot banget ya aq sama tulisan si Icha. Ya biarin aja napa…itukan cerita dia sendiri…kaya’ aq yg udah jago aja nulisnya… —Sorry pisan bwat Icha…hehehe anggap emosi reader—

Balik ke Cintachococinno…aq udah setahun belakangan ini mikirin seseorang…yahh qta sebut aja si Nimo-nya aq —Sorry ya Cha, minjem istilah lo— Bedanya dia bukan obsesiq pas zaman Es Em A. Padahal aq udah lama banget kenal si Nimo ini. Tapi baru bener’’ kenal belom lama ini. Semua tentang dia bwat aq excited bgt. Napa ya ga dari dulu’’ aq terobsesi ma ni orang? Hanya ada satu jawaban, waktuq di masa lampao —sebut aja masa eS eM A ‘til Kul— hanya terdedicated bwat orang’’ yg itu’’ mlulu. Maybe si Nimo ini ga perfect’’ banget, ga setajir mantan’’q, ga secakep ‘mantan’q, ga se cool temen aq Lucas, ga se edan Adit, ga sebaek kakakq Uwi…n ga seabrek engga’ laennya. Tapi dia ‘pantas’ bwat di jadi’in obsesi. Aq molei suka juga sama music selera si Nimo, aq menganggap apa yg disukainya n ga disukainya masuk akal bgt. Kaya’ music fav nya si Nimo…asyik aja bwat di denger…barat juga —dulu banget aq pernah maksa’in banget suka ma lagu’’ barat fav pacar aq, hasilnya? Kaya’ kebego’an banget aq— ‘Caya ato ga, salah satu lagu dari group music fav nya si Nimo ini, pernah bwat aq tercengang ‘…ni lagu bagus banget…’ ni coment aq pas masih eS eM Pe… sebelum ketemu si Nimo. Sebagai cowo’ si Nimo gape banget bwat cewe’ nyaman ama dia. Absolutely me. Ngeliat status aq yg single dicoret, emank ga mungkin banget bwat aq bisa sama’’ si Nimo, ato bahkan usaha bwat dapetin si Nimo. Secara selain status single dicoret, buntut aq dah 2. Mikir ribuan kali…cowo’ yg mau ama aq…

Sah’’ aja kan aq memiliki Nimo…yeah walo sebatas di imaji doank…not more…Nimo menjadikan aq lebih ‘hidup’…toh aq ga pernah punya usaha apapun bwat ngewujud-innya. Sebatas impian… siapapun orang yg akan menemaniq sampei aq d’end —my husband still be priority— aq berharap dia se’pantas’ Nimo-q…

A.L.*…di manapun u ada…Seandainya qsadari rasa ini jauh sebelumnya…aq pasti ngusaha’in u…kalo juga u nya mau…

* Nimo’s initial